Rabu dini hari, 26 November 2025. Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB ketika badai angin mengamuk di Aceh Tamiang. Hujan deras menyusul tanpa jeda, seakan langit tengah meluapkan seluruh isinya.
Dalam hitungan jam, sejumlah kawasan—Seruway, Sekerak, Bukit Rata—mulai tenggelam, memaksa warganya mengungsi dalam gelap.Menjelang malam, bencana itu datang ke kampung kami—Kampung Dalam.
Tempat yang menurut warga tidak pernah tersentuh banjir besar sekalipun. Namun malam itu, air yang awalnya setinggi betis tiba-tiba berubah menjadi arus deras, tanda bahwa sungai di atas gunung telah meluap hebat.Pukul 21.47, air menerobos masuk ke rumah kami. Tanpa sempat menyelamatkan banyak barang, kami naik ke lantai dua untuk bertahan.
Kami tidak menyangka bahwa air akan terus naik, mencapai 1,5 meter pada Kamis pagi. Listrik padam. Sinyal hilang. Dunia serasa berhenti. Di luar rumah, kami melihat deretan narapidana yang dilepas agar tidak tenggelam. Mereka berjalan dalam air setinggi leher, mencari tempat berteduh. Sebagian warga menolak mereka—karena status mereka.
Sebagian lagi terpaksa menolak karena lantai dua rumah mereka pun telah penuh sesak dengan puluhan orang.Namun ada keajaiban kecil: beberapa ruko membuka pintunya untuk mereka. Di tengah bencana, pintu yang paling indah adalah pintu yang dibuka untuk menolong manusia lain.
Rumah-rumah Rubuh, Alfamart Jebol, Makanan Berhamburan
Sekitar pukul 10.00, air berubah semakin ganas. Arus menghantam rumah-rumah hingga roboh. Alfamart di depan rumah kami jebol, menumpahkan seluruh isinya. Makanan-makanan itu hanyut dan tersangkut di berbagai tempat, menjadi penopang hidup orang-orang yang sudah tidak punya apa-apa.Anak-anak remaja yang berani berenang membantu mengumpulkan makanan.
Di tengah bencana, keberanian itu adalah cahaya.Namun menjelang Asar, ketinggian air mencapai tiga meter. Tidak ada yang berani turun lagi. Semua hanya bisa menunggu—entah menunggu pertolongan, atau menunggu ajal.Kami menelpon SAR. Jawabannya singkat :“Evakuasi mandiri saja. Kami tidak bisa masuk.”. Kami menghubungi BPBD. Tidak ada jawaban.Di saat manusia tak lagi mampu diharapkan, hanya Allah satu-satunya tempat kembali.
Adzan di Tengah Deru Arus
Setelah Isya, air terus bergerak naik hingga hampir mencapai lantai dua. Deru arus terdengar seperti ombak badai di tengah lautan. Dalam situasi itu, saya mengumandangkan adzan sekeras-kerasnya. Mengharap suara itu menjadi penenang, pengingat, sekaligus pernyataan bahwa kami tidak sendirian.
Malam itu malam Jumat—malam di mana doa-doa diijabah. Dalam tangis, saya memohon: “Ya Allah, kami pendosa. Tapi di antara kami ada anak kecil yang belum pernah melakukan dosa. Selamatkanlah kami karena mereka. Ya Allah, saya masih punya bayi 1 bulan, orang tua, istri, dan adik-adik. Berikan saya kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka.”.
Saya shalat dua rakaat—entah sebagai doa, entah sebagai persiapan terakhir jika air akhirnya menelan kami semua.Dari atap rumah, puluhan suara memecah malam:
“Tolong… Tolong…” Namun tidak ada satu pun perahu datang. Tidak satu pun helikopter terlihat. Kami seperti kota yang dilupakan.
Subuh: Doa Diijabah, Tapi Ujian Belum Berakhir
Air berhenti naik menjelang subuh. Tidak surut, tapi berhenti. Di titik itu, berhentinya air saja sudah seperti anugerah besar.Namun tantangan berikutnya datang: kami kehabisan makanan dan air. Beberapa rumah memasak air banjir untuk diminum.
Kami menampung air hujan dalam terpal dan memasaknya—rasanya tidak enak, tapi itulah hidup.Dari lantai dua rumah tetangga, orang-orang melempar makanan, air, tali. Yang mengejutkan, orang pertama yang melemparkan makanan ke rumah kami adala para narapidana .
Mereka yang semalam ditolak dan dicurigai, justru menjadi pahlawan hari itu. Mereka lebih manusiawi daripada pejabat yang absen. Lebih cepat menolong daripada aparat yang tak mampu datang.
Air Surut, Tapi Luka Tamiang Belum Pulih
Air mulai surut sejak Jumat hingga Ahad, 30 November 2025. Ketika tanah mulai terlihat, semua orang turun ke puing-puing, mencari sisa makanan, pakaian, dan apapun yang masih bisa dipakai.Kami saling bertemu, saling memeluk, saling menangis.
Bukan karena kehilangan harta—tapi karena Allah masih menyisakan nyawa.Rumah hancur, mobil hanyut, motor tenggelam, barang-barang hilang.Tapi semua itu tidak ada harganya dibanding satu tarikan napas kehidupan.
Harta: Jika Bukan Kita yang Meninggalkannya, Ia yang Akan Meninggalkan Kita
Bencana ini mengingatkan kami pada satu kenyataan pahit namun nyata: Di Tamiang, orang kaya dengan segala hartanya habis Allah ambil hanya dalam semalam.
Rumah mewah tenggelam sama dalamnya dengan rumah yang sederhana.Mobil mahal melayang hanyut tidak berbeda dengan motor tua. Tidak ada kelas sosial di dalam air bah. Maka janganlah tamak. Jangan merasa memiliki apa yang hanya dititipkan.
Rajinlah bersedekah sebelum harta itu pergi dari kita… dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.
Pemerintah, Di Mana Kalian
Saat rakyat berteriak minta tolong, tidak ada satu pun yang datang. SAR tak bisa masuk. BPBD tidak menjawab.Pemerintah entah di mana.Padahal saat Pilkada, kalian berdiri di depan pintu-pintu rumah kami, mengemis suara.
Jika kalian tidak mampu membantu, setidaknya jangan halangi negara lain atau pihak lain menolong.Rakyat ini bukan angka. Mereka manusia. Mereka saudara kami. Mereka rakyat kalian.
Seruan Terakhir: Jangan Ada Korupsi atas Derita Ini
Saya memohon dengan seluruh hati saya: Jangan satu rupiah pun dari bantuan ini jatuh ke tangan yang tidak berhak. Jangan jadikan penderitaan rakyat sebagai ladang mencari keuntungan.Jika tidak mau membantu, setidaknya jangan menzalimi.
Tamiang membutuhkan: Obat, Makanan, Air bersih, Tempat tinggal, Pakaian, Kasur, Selimut, Semua bentuk kehidupan dasar. Kami sudah terlalu lelah untuk kecewa lagi. Saya memohon, sekali lagi: Bantulah mereka. Kerahkan semua daya dan upaya. Selamatkan Tamiang.
Sahal Muhammad AR – Penyuluh Agama Islam Aceh Tamiang































