Penjajahan tidak selalu datang dengan kapal asing atau bendera yang berbeda warna. Dalam banyak kisah bangsa, ada penjajahan yang lebih senyap, lebih menusuk, dan sering kali lebih menyakitkan ‘penjajahan oleh bangsa sendiri’Ini adalah bentuk penindasan ketika mereka yang seharusnya melindungi justru mengambil.
Ketika kekuasaan dijadikan alat memperkaya diri, bukan menyejahterakan rakyat. Ketika kebijakan lahir bukan dari suara nurani, tetapi dari genggaman elit yang menjadikan rakyat sekadar angka statistik.
Dalam penjajahan seperti ini, rakyat dijajah tanpa merasakan deru meriam. Mereka ditindas oleh korupsi yang merampas dana pendidikan anak-anak mereka. Mereka diperas oleh kebijakan yang menutup mata pada penderitaan kelas bawah.
Mereka disakiti oleh aparat yang seharusnya mengayomi, tapi malah mengintimidasi.Di desa-desa, tambang ilegal merusak hutan dengan restu oknum pejabat.
Sungai-sungai tercemar, sawah gagal panen, dan rakyat kecil harus menanggung derita yang tidak mereka sebabkan. Di kota-kota, monopoli dagang dan permainan proyek membuat harga kebutuhan melambung, sementara upah tak bergerak.
Penjajahan oleh bangsa sendiri tidak memerlukan serdadu asing—cukup keserakahan, kekuasaan tanpa moral, dan diamnya mereka yang melihat tapi membiarkan.
Ini adalah penjajahan yang tubuhnya tak terlihat, tetapi jejaknya tampak jelas: kemiskinan struktural, ketidakadilan, dan hilangnya harapan.
Dan bangsa yang besar bukan hanya melawan penjajah dari luar, tetapi berani menegur, mengoreksi, dan membersihkan diri dari penjajahan yang tumbuh di dalam tubuhnya sendiri
10 Desember 2025
Lereng Dempo































